Wajah Baru Pelayanan Publik Polresta Tangerang yang Lebih Humanis

3 Views

Wajah Baru Pelayanan Publik Polresta Tangerang yang Lebih Humanis.

Oleh: Imam Suwandi.

 

Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00 WIB di Satpas SIM Polresta Tangerang, namun geliat aktivitas sudah terasa hidup. Di salah satu sudut ruang tunggu yang resik, duduk seorang pria paruh baya bernama Mardi (54). Warga asal Kronjo, ujung utara Kabupaten Tangerang ini, mengenang bagaimana pelik mengurus surat izin mengemudi bertahun-tahun lalu.

“Dulu kalau mau urus SIM, bayangan kita pasti seharian habis, antre panjang, belum lagi bingung alurnya,” ujar Mardi sembari menunjukkan ponsel pintarnya. “Sekarang, daftar lewat aplikasi dari rumah, datang ke sini tinggal verifikasi dan ujian. Jauh lebih transparan dan manusiawi.”

Pengalaman Mardi adalah satu dari ribuan potret perubahan yang sedang terjadi di Polresta Tangerang. Di bawah payung besar tema Hari Bhayangkara Ke-80, “Polri untuk Masyarakat”, korps berbaju cokelat di wilayah hukum Kabupaten Tangerang ini sedang melakukan transformasi besar-besaran. Fokusnya jelas dan tidak bisa ditawar: merombak total kualitas pelayanan publik.

Pelayanan publik bukan lagi sekadar urusan administratif di balik meja tinggi yang kaku. Bagi Polresta Tangerang, pelayanan adalah manifestasi nyata dari kehadiran negara di tengah masyarakat.

 

Membongkar Sekat Geografis Kabupaten Tangerang

Kabupaten Tangerang bukanlah wilayah yang mudah dikelola secara administratif. Dengan luas wilayah lebih dari 950 kilometer persegi yang mencakup daerah industri padat, pemukiman kaum urban, hingga kawasan pesisir pedesaan, tantangan utama Polresta Tangerang adalah aksesibilitas.

“Kerja keras merombak wajah birokrasi ini bukan sekadar klaim di atas kertas. Terbukti, Polresta Tangerang sukses mempertahankan predikat Pelayanan Prima (Kategori A) serta menyabet gelar Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) dari Kemenpan-RB. Sebuah legitimasi nasional bahwa transformasi yang mereka lakukan benar-benar berdampak nyata bagi warga.”

Menyadari ketimpangan jarak tersebut, Polresta Tangerang meluncurkan strategi jemput bola melalui program “Polres Bergerak”. Pelayanan tidak lagi bersifat sentralistik di markas komando, melainkan didistribusikan ke titik-titik nadi masyarakat.

 

Strategi Aksesibilitas Pelayanan Polresta Tangerang

Modernisasi Satpas dan Gedung Pelayanan Terpadu:

Integrasi layanan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), SIM, hingga Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) dalam satu atap yang ramah disabilitas dan ramah anak.

Sistem Layanan Drive-Thru & Pojok Digital:

Memangkas waktu tatap muka untuk perpanjangan dokumen perizinan, mengurangi potensi pungutan liar (pungli) melalui transaksi non-tunai (cashless).

SIM Keliling hingga Zona Pesisir:

Menjangkau warga di wilayah pedalaman dan pesisir yang memiliki kendala transportasi menuju pusat kota.

“Pelayanan publik yang baik adalah pelayanan yang tidak diskriminatif. Ketika warga di pelosok desa mendapatkan kecepatan layanan yang sama dengan warga di pusat kota, di situlah keadilan pelayanan publik tercapai.”

(Kombes Pol. Andi M. Indra Waspada A. SH., SIK., MM., MSi., Kapolresta Tangerang)

 

Digitalisasi Tanpa Menghilangkan Sisi Humanis

Di era digital, Polresta Tangerang mengadopsi berbagai platform berbasis teknologi informasi untuk mempercepat respons aduan dan permohonan masyarakat. Mulai dari optimalisasi layanan Call Center 110 hingga integrasi layanan presisi.

Namun, cetak biru pelayanan publik Polresta Tangerang tidak terjebak pada digitalisasi yang dingin. Teknologi diposisikan sebagai alat bantu, sementara aspek utamanya tetaplah empati.

Hal ini terlihat dari bagaimana fungsi Bhabinkamtibmas dioptimalkan. Mereka menjadi “ujung tombak” pelayanan publik psikologis. Ketika ada warga lansia atau sakit yang membutuhkan dokumen kepolisian, personel Bhabinkamtibmas tak ragu menyambangi rumah warga (program Door to Door System). Pelayanan publik di sini bergeser makna: dari masyarakat mencari polisi menjadi polisi melayani masyarakat.

 

Menatap Dekade Baru: Tantangan dan Konsistensi

Memasuki usia Bhayangkara ke-80, tantangan Polresta Tangerang tidaklah semakin ringan. Tingkat kepuasan masyarakat yang tinggi hari ini adalah beban moral untuk dipertahankan esok hari. Budaya melayani (culture set) seluruh personel harus terus dipelihara agar tidak kembali ke pola-pola birokrasi lama yang transaksional.

Reformasi birokrasi di tubuh Polresta Tangerang membuktikan bahwa transformasi pelayanan publik bukanlah hal yang mustahil. Dengan komitmen memangkas birokrasi yang berbelit, transparansi biaya, dan keramahan anggota di lapangan, Polresta Tangerang sedang menulis ulang persepsi masyarakat terhadap institusi Polri.

Saat Mardi melangkah keluar dari gedung Satpas dengan SIM baru di dompetnya, ia tidak hanya membawa sekeping kartu plastik. Ia membawa pulang rasa percaya—sebuah komoditas paling berharga dalam hubungan antara masyarakat dan kepolisiannya.

Di bawah langit Tangerang, Polri telah membuktikan diri: mereka ada, mereka mendengarkan, dan mereka melayani.

 

(Red*/Ims)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *