BANDARLAMPUNG jwgroupnews – Lampung adalah gerbang utama yang menjadi titik penghubung penting antara pulau Jawa dan pulau Sumatera melalui pelabuhan Bakauheni.
Daerah Lampung memiliki budaya dan adat istiadat yang beragam seperti upacara adat, seni pertunjukan, seni kerajinan, dan jenis seni pertunjukan lainnya yang tumbuh dari masyarakat Lampung yang multi-etnik.
Identities adalah sifat khas yang menerangkan dan sesuai dengan kesadaran diri pribadi sendiri, golongan sendiri, kelompok sendiri, komunitas sendiri, atau negara sendiri. Begitu juga Lampung memiliki identitas sendiri dari dilihat dari sisi bahasa, adat, budaya, seni, dan alamnya yang menawan.
Dengan latar belakang inilah sosok dosen muda yang ramah, multi talenta, sekaligus pengampu mata kuliah seni pertunjukan dan kebudayaan Lampung di Prodi Magister Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan Lampung, serta Kewirausahaan Dr. I Wayan Mustika, M.Hum., mempunyai pandangan dan visi misi kedepan dalam bidang seni dan budaya, serta mempunyai dedikasi serta komitmen yang tinggi dalam memajukan Lampung.
Beliau bercita-cita ingin mewujudkan menuju Lampung Maju dan Sejahtera dengan konsep pemberdayaan masyarakat Lampung dengan melihat kebudayaan dan keindahan alam Lampung dapat menjadi perisai untuk menjaga eksistensi dari pengaruh globalisasi yang semakin tidak terbendung, serta dapat berdaya saing dari berbagai aspek di dunia internasional dengan cara bersinergi dengan berbagai pihak terkait.
Tujuannya adalah untuk mengembangkan inovasi dan riset, meningkatan kesejahteraan masyarakat Lampung, serta penguatan perekonomian berbasis potensi daerah melalui pariwisata.
Dengan misinya yang jelas, langkah awal yang ditempuhnya adalah membuat “Yayasan Nuwo Indonesia Culture” (Rumah Kebudayaan Indonesia). Rumah tersebut berada di Jalan Rajasa Komplek Pemuka Rajabasa Bandarlampung yang fungsinya sebagai tempat untuk berkumpul menyampaikan berbagai aspirasi dari para pakar dan ahli kebudayaan.
Dari Rumah kebudayaaan Indonesia ini lah diharapkan bisa mengembangkan riset kebudayaan Indonesia khususnya budaya Lampung dan tentu saja bekerjasama dengan berbagai lembaga Pendidikan khususnya Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan Lampung, FKIP Universitas Lampung, pemerintah daerah maupun pemerintah pusat seperti kementerian pendidikan, kebudayaan, riset dan teknologi (kemendikbudristek) serta pihak swasta dan masyarakat yang mendukung.
Tujuan akhir dari misinya adalah untuk menciptakan manusia yang berbudaya, berbudi pekerti luhur dengan melibatkan pendidikan, internalisasi nilai-nilai moral, sopan santun dan toleransi, serta partisipasi aktif dalam pelestarian warisan budaya untuk membentuk masyarakat yang beradab melalui berbagai riset dan pengembangannya.
Menurutnya hal ini sangatlah perlu dipikirkan karena ada warisan budaya dari nenek moyang kita yang juga harus dilestarikan keberadaannya.
“Ada nilai nilai kebudayaan yang tertanam dalam kehidupan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Lampung dari masa pra-sejarah, Hindu-Bhudha, Islam, masa penjajahan, dan era global ini memberikan berbagai macam warna dalam kehidupan masyarakat Lampung,” ujarnya I Wayan Mustika kepada jurnalis pada Kamis (13/11/2025).
Yang paling mengkhawatirkan adalah peranan generasi milenial di Lampung dalam sikap dan pandang mereka tentang budaya tradisional. Jika kita lihat gaya generasi milenial ini lebih banyak waktu dihabiskan untuk bermain tiktok atau media lainnya yang dikhawatirkan tidak lagi memahami budaya daerahnya.
“Ini menjadi permasalahan sangat serius bagi kita semua. Di masa yang akan datang, sudah barang tentu kita (Lampung) selalu welcome terhadap wisatawan dari berbagai belahan dunia. Mengingat Lampung memiliki keindahan alam dan budaya sebagai warisan luhur yang harus dipertahankan,” tambahnya
Menurutnya, untuk menghadapi era globalisasi, Lampung harus sudah siap dengan segala tantangannya kedepan terutama masyarakatnya. Untuk itu kebudayaan dan adat istiadat Lampung harus tetap dihidupkan, lestarikan dengan tidak mengesampingkan latar belakang masyarakat yang berasal dari berbagai daerah yang saling hidup berdampingan.
“Masyarakat Lampung sebagai perisai, penopang, dan pewaris kebudayaan harus bisa memilah-milah pengaruh globalisasi negatif yang datang dari negara luar agar nilai-nilai kebudayaan kita tetap terjaga keasliannya, terus berkembang, lestari, dan hidup di bumi Lampung,” ungkapnya.
Sebesar apapun pengaruh global terhadap masyarakat Lampung, sepanjangan adat, budaya, dan seni sebagai perisai untuk menjaganya,
Lampung tetap mempunyai tradisi yang hebat dan justru dapat berdampingan dengan teknologi masa kini. Konsep ini juga kita dapat lihat di Bali bahwa, arus wisatawan dari berbagai negara ke Bali dengan budaya asingnya menjadikan Bali daerah tujuan wisata dunia.
Namun masyarakat Bali sampai saat ini masih tetap dapat menjaga eksistensi adat, seni, dan budaya mereka sebagai penjaga tradisi untuk melindungi Bali dari hal-hal yang tidak sesuai dengan keperibadian masyarakatnya.
Untuk terwujudnya pariwisata berbudaya di Lampung, tentu ada langkah yang harus dikerjakan sebagai komitmen yang harus dilaksanakan. Misalnya, Lampung yang bersih, aman, lestari, dan indah (BALI).
Dengan majunya kebudayaan daerah Lampung tentu saja sangat berpengaruh terhadap perkembangan pariwisata daerah dan diharapkan dapat mendorong dan menumbuh kembangkan perekonomian masyarakat Lampung dari segi kuliner (restoran), perhotelan untuk penginapan dan agen biro perjalanan wisata sebagai sarana transportasi.
Dengan demikian, kebudayaan Lampung diharapkan berperan sebagai daya tarik utama yang memberikan pengalaman otentik bagi wisatawan, sarana promosi, serta penopang perekonomian lokal sampai pada akhirnya bisa meningkatkan pendapatan daerah (APBD). Dengan pendapatan daerah yang tinggi tentu saja diharapkan dapat mendorong pembangunan di Lampung semakin maju dan lancar.
Begitulah garis besar pandangan dan gagasan Dr. I Wayan Mustika, M.Hum sebagai dosen Prodi MPBKL dan Prodi Seni Tari FKIP Unila yang sangat inspiratif dan membangun. Bukan saja teori sebagai dasar pijakan konsep, tetapi harus diikuti dengan praktik sebagai wujud nyata. Misalnya pemberdayaan masyarakat sekitar dengan menghadirkan wisata kuliner, penginapan dalam bingkai UMKM yang bisa menginspirasi banyak pihak.
Penulis:
Endang Ikhtiarti, Dosen Fkip Unila.
(Red*)




